Sejarah Desa
Jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, di Pattojo sudah ada pemerintahan dan merupakan satu wilayah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang DATU PATTOJO dan pada masa itu jumlah penduduk yang ada diwilayah Pattojo belum mencapai ratusan orang. Pattojo terletak di wilayah Kecamatan Liliriaja. Sejarah penamaan desa Pattojo yang terdiri dari dua suku kata yaitu Patto dan Jo. Dalam Bahasa Bugis kata Patto Bermakna patok atau batas wilayah, sedangkan kata Jo dalam bahasa bugis dapat diartikan batal. Kedua suku kata ini bermula ketika Dommeng (Prajurit) Arung Bone yang bermukim di wilayah Pattojo berselisih paham dengan Dommeng (Prajurit) Arung Soppeng, terjadi saling kejar mengejar antara kedua belah pihak. Kedua belah pihak Dommeng (Prajurit) melaporkan kejadian tersebut ke raja mereka (Arung Bone dengan Arung Soppeng). Menanggapi laporan tersebut maka raja (Arung) Soppeng mengadakan perundingan dengan Raja (Arung) Bone, dalam perundingantersebut terjadi keesepakatan untuk menentukan batas (Patto) sebagai tanda wilayah kekuasaan kedua kerajaan antara Kerajaan Bone dengan Kerajaan Soppeng. Selanjutnya apabila terjadi perselisihan kembali diantara kedua Dommeng (Prajurit), dan sampai pada batas wilayah yang telah ditentukan disarankan untuk mengucapkan kata Jo yang berarti batal. Bila salah satu diantara mereka mengucapkan kata tersebut maka segala sesuatunya menjadi batal dan kembali seperti semula. Dan kedua belah pihak ini pun kembali ke kerajaan masing-masing. Tempat berada tanda tersebut dinamakan Pattojo yang sampai saat ini kita kenal dengan nama Watanpattojo.
Baru setelah kemerdekaan Republik Indonesia pemerintahan di Pattojo berbentuk distrik yang membawahi beberapa Matoa dan Paddenreng yaitu Matoa Dabbare bernama Laima, Matua Pattojo Laside, Matua Anrangae, Tengnga dan Paddenreng Lacokkong. Dan pada tahun 1957 terjadi pemberontakan DI/TII yang menyebabkan banyak masyarakat yang mengungsi ke gunung, ke Jolle, Waessuru, dan daerah sekitarnya. Masyarakat pada saat itu hidup dengan bercocok tanam dan berdagang utnuk bertahan hidup. Pada tahun 1958 mereka kemudian turun dari tempat pengungsiannya secara bergelombang, gelombang pertama pada tahun 1958 dan gelombang kedua pada tahun 1959. Pada tahun itu masyarakat kembali ke kampung namun suasana belum kondusif, sehingga masyarakat hidup secara berkelompok dan tinggal di Dabbare, yang kemudian berbentuk dua kampung yaitu kampung Dabbare dan kampung Pattojo.